Duh Anakku Mengapa Jadi Konsumtif?

By | August 11, 2015

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling membahagiakan. Interaksi sosial dengan teman terkadang membuat mereka ingin memiliki hal yang sama dengan temannya misalnya jajan dan mainan. Tak jarang untuk mendapatkan yang dimau disertai dengan tangisan atau jeritan. Nah kalau sudah begini tak pelak orang tua akan repot membujuk. Sekali dua kali keinginannya dituruti, maka lama kelamaan anak akan mudah meminta ini itu bahkan saat orang tua sedang tak punya budget berlebih. Bunda, perilaku konsumtif pada anak sebenarnya di manage dengan baik asalkan tahu caranya. Kami berikan beberapa cara jitu mengatasi anak konsumtif:

1.        Belajar Menabung.

Menabung merupakan cara  mudah menanamkan konsep menghargai uang pada anak. Anda dapat membelikan anak sebuah celengan lucu dan selanjutnya tiap hari berilah uang koin untuk ditabung. Buat perjanjian jika celengan sudah penuh, si kecil boleh membeli apa yang dia suka. Jangan lupa beri reward berupa pujian agar anak makin semangat mengisi celengannya.

2.        Belajar berbagi.

Anda dapat mengajak si kecil berkunjung ke panti asuhan yatim piatu. Tak lupa ajak anak membawa sesuatu yang bermanfaat misalnya kue, mainan seperti puzzle atau ular tangga yang dapat dimainkan bersama-sama atau baju bekas layak pakai miliknya. Anda dapat memberinya pengertian betapa beruntungnya dia karena diberi rizqi berlebih.

3.        Belajar menghitung uang.

Untuk anak diatas 5 tahun, Anda dapat mengajarkan tentang pengetahuan keuangan sederhana. Misalnya jika dia ingin membeli mainan, katakan berapa uang yang Anda miliki dan kebutuhan pokok apa saja yang masih harus dibeli. Ajak anak membuat list belanja misalnya beras, gula, sabun dan lain-lain lalu hitung sisa uangnya. Dengan demikian anak akan mengerti betapa berharganya setiap rupiah milik Bundanya.

4.        Belajar Memilih Jajan.

Bagi anak yang hobi jajan, Anda dapat memberi tahunya tentang jajanan mana saja yang berbahaya bagi tubuhnya. Ceritakan juga dampak bila ia jajan sembarangan. Bila perlu dengan referensi gambar atau buku. Anda juga sebaiknya meluangkan waktu membuatkan camilan harian yang mudah namun menarik untuk mengurangi keinginan jajannya.

5.        Belajar tegas dan konsisten.

Yang ini diperuntukkan bagi para orang tua. Terkadang rasa tidak tega membuat kita mengabulkan semua keinginan anak. Hal ini harus disadari akan merugikan si anak sendiri. Orang tua juga harus menjadi contoh, jangan melarang anak membeli mainan, namun ternyata Anda sendiri malah membeli kosmetik, mengajak makan di tempat mahal dsb.

Dari hal-hal sederhana dan teratur, InsyaAllah anak akan berubah menjadi lebih kooperatif. Kerjasama dan sinergi antara ayah dan ibu juga berperan besar pada keberhasilan proses. Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published.